“Bayangkan Anda berjalan-jalan di tepi pantai, dan menemukan jam, lalu ditanya, bagaimana jam itu ada di sana ? Masuk akalkah jika dikatakan bahwa, layaknya banyak batu yang tersebar di pantai itu, jam itu memang sudah selalu ada di sana , dan tak ada manusia yang sengaja menciptakannya lalu meletakkannya di sana ?” Inilah pertanyaan retoris William Paley, seorang teolog Kristen awal abad ke-19 dalam Natural Theology . Tentu saja tak masuk akal jam itu ada di sana dengan sendirinya, karena jam amat kompleks: terdiri dari banyak bagian yang dengan cermat disusun menurut desain tertentu, satu bagian dihubungkan dengan bagian lain untuk menghasilkan gerakan tertentu, dan semua itu dirancang untuk bekerja mencapai tujuan tertentu (menunjukkan waktu). Maka, jelas jam itu ada penciptanya.

Paley pun melanjutkan: Sekarang bayangkan kompleksitas alam semesta beserta segala isinya. Tak ada yang meragukan bahwa benda-benda alam seperti tumbuhan, hewan, dan manusia memiliki kompleksitas yang berlipat-lipat ganda dibanding jam. Ambil contoh mata manusia atau sayap burung. Semuanya tampak dirancang dengan amat teliti dan efisien. Kalau jam saja memerlukan pencipta, masuk akalkah jika alam yang jauh lebih kompleks tak ada penciptanya? Jelas tidak. Siapa penciptanya? Kandidat terpopuler: Tuhan.

Dengan argumen ini, yang biasa disebut argumen desain ( argument from design atau argumen teleologis), Paley berpikir bahwa ia sudah membuktikan keberadaan Tuhan dengan meyakinkan. Jenis argumen ini memiliki sejarah panjang yang merentang ratusan tahun dan wujud dalam agama-agama Ibrahimi, khususnya Islam dan Kristen, dan populer tak hanya sebagai argumen akademis filsafat, tapi juga di kalangan awam. Di kalangan Islam maupun Kristen, kaum kreasionis yang memahami Tuhan sebagai Pencipta alam melalui beberapa versi argumen desain tetap bertahan, kalau tak malah berkembang pesat, hingga hari ini.

Maka tak terlalu mengherankan jika jenis argumen populer ini lalu jadi nyaris identik dengan pernyataan religiusitas, dan penafiannya identik dengan ateisme. Di sisi lain, fakta dan teori evolusi diajukan Darwin (awalnya pada 1859 dalam Origin of Species ) sebagai tandingan penjelasan kompleksitas alam yang, meminjam ungkapan ilmuwan Laplace , “tak memerlukan hipotesis tentang Tuhan”. Tak mengherankan pula jika kaum kreasionis lalu menolak keras teori evolusi dan mengecamnya sebagai bersifat ateistik.

Tapi, lepas dari soal tak diperlukannya hipotesis tentang Tuhan, benarkah fakta dan teori evolusi meniscayakan pengusiran Tuhan dari alam semesta? Satu hal yang jelas, teori evolusi memang menafikan (tepatnya: mengecilkan peluang) keberadaan Tuhan yang tampil di ujung argumen desain.

Penjelasan tandingan

Sebagian filosof menganggap bahwa argumen desain semacam yang diajukan Paley sesungguhnya sudah ditunjukkan kekeliruan logisnya oleh filosof David Hume beberapa dasawarsa sebelum Paley menulis karyanya. Repotnya, Hume tak punya alternatif penjelasan kompleksitas alam, sehingga ia pun jadi kurang meyakinkan. Kekuatan argumen desain tepat ada di sini. Untuk sekian lama, argumen desain memberikan satu-satunya penjelasan kompleksitas alam semesta yang masuk akal: Karena manusia tak punya penjelasan lain, tak mampu memahami kompleksitas itu, maka pastilah alam diciptakan Tuhan.

Namun, kekosongan alternatif penjelasan inilah yang diiisi oleh teori evolusi melalui seleksi alamiah. Seperti dinyatakan evolusionis terkemuka Richard Dawkins, teori ini menjadikan gambaran dunia makhluk yang “tercipta secara kebetulan”, tanpa memerlukan pencipta, dan tanpa memerlukan tujuan, menjadi bukan saja masuk akal, tapi mendapatkan bukti-bukti empiris yang cukup meyakinkan ( The Blind Watchmaker) .

Dawkins menjelaskan, kunci utama keberhasilan mekanisme seleksi alam dalam “menciptakan” makhluk hidup dengan kompleksitas menakjubkan itu adalah adanya rentang waktu yang amat panjang. Evolusi terjadi dalam sederetan langkah kecil yang amat sederhana—sedemikian sederhananya, sehingga tak mengherankan jika itu terjadi “secara kebetulan”. Kompleksitas yang menjadi kunci argumen Paley dipotong-potong menjadi penggalan-penggalan fenomena sederhana. Dengan rumus adaptasi, “yang mampu terus hidup adalah yang mampu beradaptasi dengan lingkungan”, keacakan arah perubahan itu terbatasi dengan cukup ketat, sehingga memungkinkan perubahan kecil-kecil itu terakumulasi. Serangkaian perubahan kecil itu pun menjelma menjadi makhluk-makhluk kompleks dalam rentang waktu yang amat panjang—tak kurang dari 3 milyar tahun untuk mencapai tingkat kehidupan manusia modern.

Penjelasan ini tentu teramat ringkas untuk menjawab sebagian keberatan kaum kreasionis—dalam Islam maupun Kristen—yang kerap mempertanyakan bukti-bukti empiris fakta terjadinya evolusi maupun mekanismenya. Ini tak akan dibahas lebih jauh di sini. Tak kalah pentingnya, dan lepas dari soal kebenaran klaim kaum evolusionis, haruskah penerimaan fakta bahwa makhluk hidup—termasuk manusia—ada dalam wujudnya saat ini setelah melalui evolusi panjang, dan bahwa seleksi alam adalah salah satu faktor pentingnya, berimplikasi pada keyakinan tak adanya Pencipta, seperti yang dengan tegas dipercayai Dawkins?

Sekali lagi, satu hal yang pasti, keberadaan Tuhan, sebagai bagian hipotesis ilmiah, memang tak disyaratkan. Tapi ini adalah soal yang terpisah sama sekali dari soal keberadaan Tuhan. Dari tak disyaratkannya Tuhan ke kesimpulan mengenai ketakadaanNya ada jarak logika yang dilompati Dawkins. Sesungguhnya, kesimpulan terjauh yang bisa ditarik adalah bahwa alam semesta, meminjam ungkapan filosof agama John Hick, bersifat ambigu: ia bisa dipahami secara sepenuhnya naturalistik, tanpa melibatkan Tuhan; namun bisa juga dimaknai secara religius. Teori evolusi tak memastikan pilihan mana yang bisa diambil.

Teologi tandingan: Tuhan bukan Tukang Jam

Argumen desain ala teologi Paley tentu saja tak identik dengan Kristen, tak identik dengan agama, dan, lebih-lebih, tak identik dengan keyakinan akan keberadaan Tuhan. Kritik terhadapnya pun tak identik dengan sikap ateistik. Sesungguhnya tak sedikit kaum beragama yang juga menolak argumen ini. Di kalangan Kristen, ketika sebagian ilmuwan yang sezaman dengan Darwin masih tak bisa menerima teori evolusi, telah banyak teolog yang bahkan dengan suka cita menyambutnya. Bagi mereka gagasan ini memberikan dasar bagi teologi Kristiani baru yang lebih memuaskan cita rasa intelektual.

Misalnya, 30 tahun setelah terbitnya Origin of Species , Aubrey Moore menulis, “bukti ilmiah untuk evolusi sebagai teori jauh lebih Kristiani dibanding teori ‘penciptaan khusus’, karena teori ini berimplikasi pada imanensi Tuhan dalam alam, dan kehadiran daya ciptaNya di mana-mana….” (Dikutip dari Arthur Peacocke, The Paths from Science towards God , 1998) Baginya, Tuhan yang hadir sekali-sekali dalam bentuk mukjizat berarti adalah juga Tuhan yang absen di waktu-waktu lain!

Arthur Peacocke, ilmuwan sekaligus teolog yang aktif dalam wacana sains dan agama dewasa ini, mengembangkan pandangan serupa. Baginya, penciptaan ilahiah bukanlah peristiwa sejarah yang telah selesai di suatu titik di masa lampau, tapi berlangsung terus. Di satu sisi Tuhan bersifat transenden, mengatasi alam, di sisi lain Ia imanen, selalu hadir dalam sejarah alam semesta dan manusia—selayaknya Beethoven selalu hadir setiap kali Symphony Ketujuh-nya dimainkan.

Di kalangan Muslim modern, argumen desain tak kalah populer, namun juga tak memuaskan banyak orang. Salah satu yang menonjol adalah penolakan filosof besar awal abad ke-20, Muhammad Iqbal. Dalam buku magnum opus -nya, Reconstruction of Religious Thought in Islam , ia menyatakan bahwa argumen desain hanya mampu menyimpulkan Tuhan sebagai tukang yang trampil, yang selesai mencipta di masa lalu, dan terpisah dari alam hasil karyaNya. Bagi Iqbal, aktifitas pertukangan ini bukan saja tak mampu menggambarkan model penciptaan Tuhan, tapi bahkan tak layak disebut “penciptaan”.

Tuhan Iqbal adalah Tuhan penuh gerak yang aktifitas penciptaanNya amat dinamis, berkelanjutan tanpa henti. Evolusi yang terus terjadi di alam adalah cerminan dinamisme daya cipta Ilahiah ini, di mana makhluk adalah sekaligus mitra Tuhan dalam kerja penciptaan. Jika Iqbal mengkritik Darwin , maka itu menyangkut tafsir materialistik atas evolusi, bukan pada teori evolusi itu sendiri. Umumnya, teori ilmiah memang memiliki ambiguitas filosofis, sehingga bisa mendapatkan beragam tafsir filosofis.

Sesungguhnya, lebih mengherankan jika di kalangan Muslim tafsiran literal atas kisah penciptaan ala kaum kreasionis Kristen juga menjadi populer. Seperti diamati Karen Armstrong, tak seperti dalam Injil, mekanisme penciptaan tak pernah dikemukakan secara cukup terinci dalam al-Qur’an. Nyatanya, penolakan keras terhadap teori evolusi tak kalah populer hingga hari ini, sebagaimana tampak dalam karya-karya Harun Yahya. Pembaca buku-buku Yahya seperti dihadapkan pada dua pilihan: menerima evolusi atau beriman kepada Tuhan! Begitu seriuskah implikasi penerimaan suatu teori ilmiah?

Murtadha Muthahhari, yang komitmen keislamannya tak diragukan, juga mengamati perbedaan yang dikemukakan Armstrong dan mengkritik keras Muslim “yang berpikir bahwa tauhid hanya bisa ditegaskan dengan menolak teori evolusi.” Sebaliknya, ujar sang ulama, salah satu keajaiban penciptaan adalah adanya berbagai macam makhluk dengan beraneka anggota dari satu substansi sederhana dan seragam, seperti yang dikemukakan teori itu. Ia juga menegaskan bahwa “menurut Al-Qur’an, penciptaan bukan fenomena sesaat.” ( Ruh, Materi, dan Kehidupan , Mizan, 1985) Dalam ungkapan Muthahhari, Tuhan tak perlu sesekali “menjulurkan lengan dari balik jubahNya” ketika akan menciptakan spesies-spesies baru, termasuk manusia, karena sesungguhnya ia selalu terlibat dalam peristiwa-peristiwa alam. Bahwa bahasa kaum beragama ini tak hadir dalam teori evolusi, tak berarti Tuhan tak hadir dalam proses itu. Persoalannya adalah pemaknaan, yang berada di luar lingkup sains, meskipun tak sepenuhnya terpisah darinya.

Maka kunci persoalan ini pertama-tama memang menyangkut kemampuan membedakan teori ilmiah dari tafsir filosofisnya. Bagi kaum beragama, kunci lainnya terletak pada kemampuan imajinatif membayangkan model Tuhan (dan modus penciptaan) yang baik. Tuhan yang terusir dari alam, bersama munculnya Darwin , bukanlah model Tuhan yang cukup canggih, meski amat populer.

Dalam sejarah manusia, “Tuhan” telah dibunuh berkali-kali, oleh Marx, Nietzsche, Freud, juga Darwin . Tuhan yang dibunuh Nietzsche adalah Tuhannya para filosof, yang abstrak dan jauh dari penderitaan manusia. Tuhan yang peluang keberadaanNya amat dikecilkan oleh teori evolusi adalah Tuhan yang model penciptaannya mirip proses penciptaan jam: terjadi di masa lalu yang jauh. Tuhan semacam itu tentu bukanlah satu-satunya citra Tuhan yang bisa dibayangkan manusia. Seperti dikatakan sang penulis sejarah Tuhan, Karen Armstrong, kata “Tuhan” memiliki makna yang amat beragam, dan justru karena keluwesan makna inilah gagasan tentang Tuhan tak pernah mati.